<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489</id><updated>2011-07-08T09:40:59.498+07:00</updated><category term='Kenangan'/><category term='Cerpen'/><category term='Budaya'/><category term='Family'/><category term='Celoteh'/><title type='text'>Talang Damping</title><subtitle type='html'>Tentang kenangan, perjalanan, dan rencana-rencana</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-9183253008031490071</id><published>2009-12-31T15:22:00.002+07:00</published><updated>2009-12-31T15:25:24.829+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Family'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Resolusi 2010</title><content type='html'>Terus terang, selama 3 tahun belajar menjadi seorang blogger, belum pernah sekalipun aku menuliskan Resolusi untuk menyambut tahun baru. Agenda, harapan, ataupun impian banyak muncul di blog teman-teman lain. Sungguh sesutu yang menurutku sangat luar biasa. Kenapa? Karena menuliskan resolusi berarti membulatkan tekad dan mengupayakan dengan gigih harapan dan impian di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya bagiku mengikrarkan resolusi pada tahun 2010:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Melanjutkan studi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, telah 7 tahun menyelesaikan sekolah di tingkat sarjana dan setelahnya bekerja, aku merasakan perbedaan yang luar biasa. Jika di bangku kuliah ada banyak konsep yang kudapatkan untuk memahami realitas, maka di dunia nyata aku menghadapi realitas yang sudah banyak berbeda dengan konsep. Antara keduaya, ada dialektika yang harus dipahami, ada kompromi yang harus dijalani, dan banyak lagi hal yang menggambarkan betapa kehidupan dijalani dengan pertarungan-pertarungan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan studi menjadi agendaku pada 2010. Saat ini aku sedang menjalani proses seleksi beasiswa dengan harapan dapat sekolah lagi di Eropa. Seperti terkena sindrom &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt; si Andrea Hirata. Selain itu, jika tak lulus, ada beberapa beasiswa yang sedang aku "incar", antara lain kembali ke Kampus Biru dengan program internasional yang memiliki keragaman latara belakang mahasiswa yang tak hanya dari Indonesia. Di kampusku dulu itu ada 2 beasiswa yang menjadi targetku. satunya hanya belajar di Yogyakarta serta satu lagi separoh belajar di luar negeri selama setahun serta setahunnya menyelesaikan tesis di tanah air. Semua ilmu yang akan kupelajari masih terkait erat dengan bidang pekerjaan yang kutekuni saat ini: Hak Asasi Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit orang yang apatis pada pendidikan karena tak banyak membuat perbaikan pada kondisi bangsa Indonesia. Namun ada banyak pula orang gila sekolah tinggi-tinggi hanya untuk mendapatkan gaji setinggi-tingginya sehingga bisa kaya untuk diri dan keluarganya. Aku, bersekolah mengkompromikan keduanya. Aku butuh uang lebih banyak karena kebutuhan pokok hidup di Jabodetabek terus terang tidak lagi dapat dipenuhi dengan baik oleh instansi tempatku bekerja. Juga, ilmuku perlu terusi diasah dan ditambah supaya peranku sebagai bagian dari gerakan perubahan bisa jadi lebih bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kondisi Jakarta baik secara sosial maupun fisik jelas telah membuat daya tahan tubuhku sering melemah. Kata dokter, polusi dan stress menjadi penyebabnya. Olahraga lari pagi sekitar 2 - 3 kali sepekan lumayan membantu. Namun sebenarnya aku sendiri ingin beristirahat sekitar 2 tahun, mengungsikan diri dari keramaian Jakarta. Terbukti, awal bulan lalu, aku kembali ke Yogya beberapa hari, badan terasa ringan. Yang pasti, karena udara di sana lebih bersih dari pada di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa alasanku ingin melanjutkan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Mendapatkan pekerjaan baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, sulit sekali bagiku saat ini untuk memenuhi ketubuhak keluarga jika tetap bertahan dengan pekerjaan yang sekarang kujalani. Gaji yang kuterima sudah tidak cukup lagi. Terus terang berjuang untuk kemanusiaan merupakan hal yang menantang bagiku, baik segi keilmuan maupun segi tanggung jawab moral bagi orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulitnya kondisiku bekerja di instansiku sekarang, antara lain karena aku terikat jam kerja dari pukul 09.00 - 17.00 wib. Belum lagi waktu tempuh dari rumah tinggal di Kab. Bogor sana yang karena kemacetan semakin parah memakan waktu tak kurang dari 4 jam pulang pergi. Itu pun kalau dalam kondisi normal. Dalam kondisi di luar normal bisa memakan waktu lebih dari 5 jam. Kalau sudah begitu, dengan load pekerjaan yang luar biasa banyak, jelas tak mungkin bagiku untuk mencari penghasilan tambahan. Kecuali kalau mau korupsi waktu, mengerjakan pekerjaan di luar kepentingan lembaga. Jalas, hampir tidak mungkin itu aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan dengan penghasilan lebih baik dari sekarang dengan tetap berperan dalam sosial kemasyarakatan adalah resolusiku tahun 2010 ini. Tentunya selain melanjutkan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap, resolusi ini akan terwujud. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-9183253008031490071?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/9183253008031490071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/12/resolusi-2010.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/9183253008031490071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/9183253008031490071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/12/resolusi-2010.html' title='Resolusi 2010'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-4223423577126394512</id><published>2009-07-12T00:13:00.007+07:00</published><updated>2009-08-28T15:39:21.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Ia terpilih lagi</title><content type='html'>Aku tidak memilih dalam Pemilu Presiden kali ini. Sejak mula, aku tahu ia pasti menang. Sebabnya? Iklan di mana-mana dan menggunakan hampir semua saluran komunikasi publik dari kota hingga pelosok desa. Jelas ia pasti mudah untuk diingat oleh masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, masyarakat di Indonesia tidak terbiasa menilai orang dari kinerjanya. Yang ada hanyalah pesona-pesona melalui media iklan. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal yang cukup membuatku "malas" untuk memilih kali ini adalah segala macam keberhasilan yang diklaim oleh incumbent sebagai jerih payahnya sama halnya dengan masa manipulasi. Satu cerita dari tempat tinggalku, seorang tetangga yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta bersuamikan salah seorang anggota pengawal Presiden (Paspampres) yang menyatakan bahwa ia akan memilih incumbent karena mereka makan dari pemeberiannya. Dulu, Seharto di masa kekuasaannya menyatakan (melalui partainya) bahwa sekolah Inpres, Puskesmas Inpres, Jembatan Inpres, Sapi ternak Inpres, dan semua yang berbau Inpres adalah buah dari kebaiknnya. Kenyataannya, semua program itu dilaksanakan atas biaya negara. Jelas itu bukan biaya pribadi sang incumbent. Dari fenomena ini, saya menangkap kegagalan parta politik dan pemerintah sendiri untuk mencerdaskan kehidupan politik bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim penurunan harga BBM setelah dinaikan sekian kali, Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang ternyata bersumber pada hutang negara yang terus bertambah pada lembaga keuangan internasional, serta peningkatan anggaran pendidikan nasional yang memang menjadi amanat konstitusi telah menjadi alat untuk memenangi pertarungan kali ini. Sayangnya, sekali lagi, merupakan upaya untuk menjadikan rakyat tidak cerdas secara politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capres-Cawapres lain memiliki kelemahan yang tidak kalah hebat di sana sini. Tetapi sekali lagi, rekam jejak mereka semua telah membuat saya tidak berminat untuk memilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa hal di atas, terpaksalah saya mengurungkan niat untuk ikut memilih pasangan Capres-Cawapres Indonesia kali ini. Untuk yang menang, saya ucapkan selamat. Namun, saya tak akan merasa puas dengan membiarkan pemerintahan berjalan seadanya tanpa kritik yang membangun dan mengarahkan pada tujuan perbaikan kesejahteraan bangsa ini. Sebab, menciptakan kesejahteraan itu sendiri menjadi amanat konssitusi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-4223423577126394512?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/4223423577126394512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/07/ia-terpilih-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/4223423577126394512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/4223423577126394512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/07/ia-terpilih-lagi.html' title='Ia terpilih lagi'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-3358818804817823081</id><published>2009-05-05T14:25:00.003+07:00</published><updated>2011-02-11T18:33:14.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Setelah Sepuluh Tahun</title><content type='html'>Kami berdua pada satu meja di tempat kongkow mahasiwa di jalan Kaliurang. Dekat daerah sebelum Kentungan. Ia tak hirau akan meja-meja di sekitar kami yang terus terisi oleh mahasiwa-mahasiwa di kota gudeg ini. Kami sengaja tak memilih tempat di pojok sebab merasa risih. "Usia kita beda sama mereka," katanya. Terlalu ABG untuk kencan a la mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia kami memang sudah bukan ABG lagi. Masa mahasiswa pun telah jadi kenangan sejak sepuluh tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memesan segelas es lemon tea dan sepiring pisang goreng keju. Aku memesan segelas es jeruk dan sepiring nasi gudeg. Lapar rasanya, sudah saatnya makan malam. Ia memang mengajakku bertemu malam itu. Pukul delapan malam, usai pertemuan di sebuah klub penyuka burung di daerah jalan Gejayan. Semacam bird watching club. Jauh-jauh aku datang dari pedalaman Kalimantan Timur hanya untuk mengikuti pertemuan ini, sekaligus mengenang masa-masa kuliah di Jogja sepuluh tahun lalu. Ia kebetulan sedang menempuh pendidikan lanjut di Pasca Sarjana UGM, almamater kami, tempat dulu kami bertemu untuk pertama kali dan pernah lebih dari sekedar teman biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jogja memang jauh beda" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apanya yang beda?"&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Ya beda lah....Dulu kita makan di angkringan. Sekarang banyak tempat ngobrol sudah seperti warung tenda di Jakarta. Mahasiswa di sini juga ngobrol bukan lagi membicarakan tentang reformasi yang lebih dari sepuluh tahun belum juga mengurangi perempuan-perempuan ke luar negeri untuk menghidupi suami dan anak-anaknya di negeri sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, dari dulu kamu selalu bicara yang terlalu serius. Sudahlah, bukan lagi urusan kita pake rame-rame di jalanan. Biarlah mahasiswa yang masih kritis yang melakukannya. Dan setahun aku menginjakkan kaki di sini, tak kulihat lagi mahasiswa ramai berdemonstrasi seperti kamu dulu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan kamu sendiri, sampai kapan kamu akan tetap menyendiri?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu payah, tak pernah mau tahu aku. Sudah nyaman ya dengan istrimu itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih belum berubah. Aku tak pernah bisa mencintai orang lain sejak kamu meninggalkanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keras kepala."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu yang tega. Sudah kusampaikan itu berkali-kali. Tapi kamu tak pernah mau peduli. Kamu tak sabar menungguku waktu itu. Sementara aku begitu bertahan pada kehendakku. Aku mau kamu, titik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sodorkan padaku segepok cinta yang sangat indahnya. Aku tak mau menerimanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia letakkan pelan-pelan di depanku. Aku terus melahap nasi gudeg di pandangi senyum manis itu. Senyum itu, sepuluh tahun lalu telah meruntuhkan tekadku untuk tak berpacaran sampai menyelesaikan kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisang goreng itu satu persatu masuk ke dalam mulutnya, diselai regukan es lemon tea kesukaannya, dan masih dengan cara yang sama dengan dulu. Sungguh, aku masing mengenangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ambillah, aku ikhlas kok. Aku kumpulkan sejak delapan tahun kepergianmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak bisa. Masa itu telah lama berlalu. Aku tak bisa mengkhianatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak memintamu mengkhianatinya, kok. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku tak pernah berubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu beranjak. Kami tetap dalam hening. Suasana sekeliling kami mulai menyepi meski kursi-kursi penuh terisi. Kami diam untuk beberapa lama. Aku kembali ke masa-masa sepuluh tahun lalu. Pikirannya &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;melayang &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;entah kemana. Kalaupun sama, dalam diam itu kami belum juga berpapasan....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-3358818804817823081?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/3358818804817823081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/05/setelah-sepuluh-tahun.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/3358818804817823081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/3358818804817823081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/05/setelah-sepuluh-tahun.html' title='Setelah Sepuluh Tahun'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-4440602265746218044</id><published>2009-01-16T15:00:00.008+07:00</published><updated>2009-04-03T15:35:37.611+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Family'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Melestarikan Seni-Budaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SXBJAATAZBI/AAAAAAAAAs4/F3WEzV2kgNg/s1600-h/Dol.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 144px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SXBJAATAZBI/AAAAAAAAAs4/F3WEzV2kgNg/s200/Dol.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291809826588877842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di sela-sela makan siang di ruang makan kantor sekitar pukul 13.30 wib tadi, aku nonton liputan Elshinta TV mengenai pelestarian alat musik Dol di Bengkulu. Menarik sekali untuk ukuranku yang sudah lama tidak menyaksikan. Senang sekali nengok ada orang yang mau gigih melestarikan alat musik ini dengan membuatnya secara turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang bocah penabuh dol diwawancarai jurnalis TV.&lt;br /&gt;"Cita-cita kamu apa nanti kalau sudah besar?"&lt;br /&gt;"Mau jadi penabuh Dol"&lt;br /&gt;"Jadi penabuh Dol terus sampai dewasa?"&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban anak itu memang terkesan lugu. Tapi paling tidak tetap ada yang mencintai dan mau ikut melestarikan seni-budaya sejak masa kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini cukup membuatku senang, melihat anak-anak bergembira dengan alat musik tradisional kakek-neneknya. Ikut terharu, sama terharu sewaktu akhir tahun lalu aku dan keluarga berlibur ke Bandung dan mengunjungi  &lt;a href="http://www.angklung-udjo.co.id/" target="_blank"&gt;Saung Angklung Udjo&lt;/a&gt;, salah satu padepokan pelestarian kesenian Angklung dan seni-seni lain di Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SXBJJG4q1QI/AAAAAAAAAtA/fW5WIx--nO0/s1600-h/Angklung-Udjo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 133px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SXBJJG4q1QI/AAAAAAAAAtA/fW5WIx--nO0/s200/Angklung-Udjo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291809982976283906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di Saung Angklung Udjo, selain melihat-lihat padepokan, dan teman kami membeli beberapa buah Angklung pesanan dari Jakarta, kami pun sempat menyaksikan pertunjukan Angklung yang memang rutin ada setiap sore itu. Apalagi di hari Ahad, penontonnya banyak. Di sana, anak-anak kecil yang ikut sanggar seni di Saung Udjo mengakhiri pertunjukan dengan mengajak para penonton ikut menari di tengah-tengah tempat pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat ngobrol dengan ibu Susi, yang 2 orang anaknya ikut belajar kesenian di sana. Ia senang sekali, sebab selain melestarikan seni-budaya Sunda, anak-anaknya juga berkesempatan untuk tampil dalam pertunjukan di berbagai daerah, termasuk di Istana Negara. Bahkan jika sudah cukup besar, ada kesempatan untuk tampil pada pertunjukan di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang sekali, anak-anak itu cinta pada kesenian. Sejak dini. Aku bangga pada negeri ini, yang punya beraneka ragam seni-budaya yang tinggi. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mencintai dan melestarikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Tentang pelestarian alat musik Dol, silahkan kunjungi tautan &lt;a href="http://www.indosiar.com/news/horison/49410/dol-musik-tradisional-bengkulu" target="_blank"&gt;ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;2. Untuk informasi lebih jauh mengenai Saung Angklung Udjo, kunjungi websitenya &lt;a href="http://www.angklung-udjo.co.id/" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-4440602265746218044?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/4440602265746218044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/01/melestarikan-seni-budaya.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/4440602265746218044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/4440602265746218044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/01/melestarikan-seni-budaya.html' title='Melestarikan Seni-Budaya'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_kZthxFi_LTw/SXBJAATAZBI/AAAAAAAAAs4/F3WEzV2kgNg/s72-c/Dol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-6139147903413760190</id><published>2009-01-08T14:30:00.004+07:00</published><updated>2009-01-09T11:39:33.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Tidak banyak bicara vs bicara banyak</title><content type='html'>Saya termasuk orang yang tidak banyak bicara di forum-forum, baik dalam kelompok kecil ataupun seminar yang dihadiri oleh banyak orang. Susah sekali untuk bicara, meski ide dan pendapat sudah ada di kepala. Saya mengetahui beberapa orang teman dekat ternyata memiliki tipe yang sama: tidak banyak bicara. Namun demikian, setelah membaca tulisan-tulisan mereka, saya akhirnya bisa memahami bahwa teman-teman saya ini cerdas, memiliki ide cemerlang, serta pandai menulis puisi, makalah, novel, maupun buku-buku serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman di kantor susah sekali bicara pada rapat-rapat. Namun sekali ia bicara, ternyata isinya bermutu. Juga setelah membaca tulisan-tulisannya di mailing list kantor maupun mailing list di luar sana, pandai sekali ia merangkai kata dan sungguh padat isinya. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teman seatap saat di Yogya juga demikian. Saya membaca isi blognya, ternyata ia pandai menulis makalah yang ia posting di sana. Bahkan opini-opini atau argumen yang lengkap dengan datanya sungguh membuat saya kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Hatta, tokoh nasional yang saya kagumi, adalah orang yang juga tidak banyak bicara. Tapi tulisan-tulisannya jelas menjadi bukti kalau ia orang yang tidak bisa diremehkan oleh Soekarno sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam dan tidak banyak bicara di forum diskusi yang jumlah pesertanya banyak kadang disebabkan karena merasa tidak leluasa untuk mengungkapkan pendapat. Namun saat berada di forum yang lebih kecil, mungkin kurang dari 10 orang, justru banyak hal yang bisa ia muntahkan. Itu pun dengan cara yang tidak formal, seperti ngobrol-ngobrol di warung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;angkringan&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya ruang gerak sendiri-sendiri sesuai dengan kondisi psikologisnya. Tidak bisa disamaratakan. Kecerdasan tidak bisa dilihat semata dari keberanian bicara. Yang lebih baik adalah, cerdas sekaligus mampu mengungkapkan kecerdasan itu dalam forum sehingga bisa diambil manfaatnya oleh khalayak banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lainnya, ada seorang Guru Besar sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur yang saya kenal. Ia sangat pandai menuliskan ide-idenya dan sering dimuat di media massa nasional. Namun demikian, ketika bicara di forum, sepertinya ada jarak yang terlalu jauh dengan kemampuan menulisnya. Meminta orang lain untuk menuliskan? Tentu saja tidak. Seorang teman aktivis dari Lumajang pernah berujar, "kalau mau mewawancarai dia, lebih baik beri pertanyaan dan minta ia memberi jawaban dalam bentuk tulisan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan saya? Terus terang, di forum-forum diskusi atau seminar atau workshop, saya juga lebih banyak mendengarkan orang lain bicara. Kadang saya berpikir, "Ikut seminar atau worskhop seperti nonton teater gandrik atau Landung simatupang yang sedang membaca puisi. Tapi, saya juga tak pandai menulis. Jadi, ya... biasa-biasa saja. Posting ini saya tulis juga dalam kondisi suntuk, sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan  :))&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-6139147903413760190?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/6139147903413760190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/01/tidak-banyak-bicara-vs-bicara-banyak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/6139147903413760190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/6139147903413760190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2009/01/tidak-banyak-bicara-vs-bicara-banyak.html' title='Tidak banyak bicara vs bicara banyak'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-6907976394999333933</id><published>2008-07-10T12:44:00.002+07:00</published><updated>2009-01-05T17:53:04.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Hamil bareng</title><content type='html'>Bagaimana pendapat Anda, jika &lt;a href="http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/06/080620_pregnancypact.shtml" target="_blank"&gt;dalam satu sekolahan siswi-siswinya bersepakat untuk hamil bareng-bareng&lt;/a&gt;? Bagaimana pula tanggapan Anda kalau satu dari sekian mereka itu adalah anak Anda sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara bagian Massachusetts, AS, ada sejumlah siswi yang berusia kurang dari 16 tahun hamil bersama-sama. Yang tidak jadi hamil malah gelisah sebab tidak bisa hamil bareng teman-temannya. Ah... beberapa teman saya yang sudah menginjak usia 30 tahun dan sudah menjalani masa perkawinan enam tahun masih gelisah belum mendapat kesempatan hamil. Di jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur ada seorang terapis tradisional yang bisa membuat sejumlah teman-teman saya di kantor hamil hanya berselang beberapa bulan. Nah, kalau teman-teman saya ini memang tidak bisa hamil bareng, sebab mereka datang ke terapis satu-satu setelah mengetahui teman lainnya sudah terbukti bisa hamil. Kantor saya malah kelabakan karena satu-satu stafnya cuti melahirkan. Hingga saat ini masih ada 3 orang yang cuti melahirkan, setelah sebelumnya juga ada 3 orang yang menyudahi cuti yang sama.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sekolahan di Massachusetts itu mungkin sekali hamil karena tren anak-anak seusia mereka saat ini. Mungkin kerena dianggap "keren" bisa hamil, mereka bersepakat untuk berada dalam kondisi hamil dalam rentang waktu bersamaan. Seperti film American Pie, dimana anak-anak tingkat akhir SLTA, pada malam kelulusan sekolah yang dirayakan, berjuang supaya pada saat itu sudah tidak ada lagi diantara mereka yang belum merasakan s*nggam*. Saking inginnya bisa merasakah hubungan badan, salah seorang anak akhirnya melakukan "itu" dengan ibu temannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapat Anda tentang ini semua?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-6907976394999333933?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/6907976394999333933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/07/hamil-bareng.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/6907976394999333933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/6907976394999333933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/07/hamil-bareng.html' title='Hamil bareng'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-8875762640400516277</id><published>2008-07-08T17:24:00.003+07:00</published><updated>2009-01-05T17:53:45.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Family'/><title type='text'>Berakhir pekan di Bogor</title><content type='html'>Sudah beberapa bulan ini saya sekeluarga tidak berkunjung ke keluarga Bapak di Bogor. Bapak yang ini sudah seperti orang tua sendiri, sangat perhatian pada kami, bahkan sangat sayang pada Zahid, anak kami. Dalam beberapa hal, menghadapi Mak dan Bapak di Bogor terasa seperti menghadapi Bapak dan Mak kandung saya sendiri di Bengkulu. Orang tua di Bogor ini adalah mertua dari kakak saya Midi, yang sekarang bersama teteh Euis dan anak-anak mereka bermukim di Kaur, Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Sabtu sore hingga Ahad saya sekeluarga pergi ke Bogor. Niatnya silaturrahim dan sekaligus berakhir pekan di Bogor. Kebetulan, rumah bapak di Bogor berada di Caringin, daerah yang sudah dekat dengan Sukabumi. Hawanya sejuk dan dingin pula. Menghirup udara di sini seperti memulihkan kondisi paru-paru yang sesak oleh udara kotor Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi macet yang luar biasa, berangkat menjelang maghrib dari Ciluengsi, dengan menumpang pada angkutan tujuan Ciawi, kami pun berangkat. Tak dinyana, kami ketiban kemacetan akhir pekan mereka yang berlibur ke arah Puncak. Tiba di rumah bapak sudah hampir pukul 10 malam. Senda tawa, cerita sana-sini dan ini-itu, ketemu teteh Iya dan anak-anaknya yang sudah sebulan tiba dari Aceh, ada Memey dan anaknya serta suaminya yang menjelang tengah malam baru tiba dari Sukabumi, serta ada Nenek (Uyut) yang sangat senang melihat Zahid, semua kami lalui malam itu hingga Ahad siang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, liburan singkat namun cukuplah membuat hati kami bergembira.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-8875762640400516277?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/8875762640400516277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/07/berakhir-pekan-di-bogor.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/8875762640400516277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/8875762640400516277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/07/berakhir-pekan-di-bogor.html' title='Berakhir pekan di Bogor'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-2483782087828560428</id><published>2008-05-29T14:16:00.002+07:00</published><updated>2009-01-05T17:54:22.639+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Gas langka</title><content type='html'>Beberapa hari belakangan ini gas susah ditemukan di tempat-tempat penjualan. Kemarin, radio &lt;a href="http://www.elshinta.com/"&gt;Elshinta&lt;/a&gt; memberitakan kalau kelangkaan ini karena ada yang mengira harga gas akan ikut naik seperti BBM. Lalu mereka menimbunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oalah... orang susah tambah dibuat susah. Minyak tanah dihilangkan (jangan baca: langka). Gas tak ada. Lalu masak pake apa? Istri saya mengeluh sedari kemarin. Saya juga bingung. Dalam hari saya mengumpat: Salahnya pilih "Bersama kita bisa". Tepat sekali pilih pemimpin, "bersama kita bisa miskin". Tapi yang miskin bukan Pemimpinnya, tapi orang-orang yang selalu terhimpit ekonominya. Dan mereka itu lalu berdoa, "semoga Tuhan memberi kelapangan hati untuk orang-orang yang didzolimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini di rumah masih bisa masak, sementara di luar sana terlalu banyak orang  yang mau masak apa saja masih bingung karena memang sudah tidak punya apa-apa untuk dimasak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-2483782087828560428?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/2483782087828560428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/05/gas-langka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/2483782087828560428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/2483782087828560428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/05/gas-langka.html' title='Gas langka'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-6381585052549584904</id><published>2008-04-11T18:35:00.003+07:00</published><updated>2009-01-05T17:54:44.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Celoteh'/><title type='text'>Pulang</title><content type='html'>Sudah reda nampaknya hujan di luar sana. Pukul 19.00 WIB. Aku masih disini, di lantai tiga kantorku. Sudah saatnya pulang kalau begitu. Ah, sudah akhri pekan lagi. Aku tidak tahu apakah minggu ini hari-hariku sudah lebih baik dari minggu-minggu sebelumnya. Sepertinya aku sekarang mulai merasakan hidup seperti mesin. Berangkat pagi hari ke kantor, menyelesaikan pekerjaan di ruangan yang sama, dan pulang pada saat malam beranjak kelam. Sungguh, kebosanan sudah mulai merayapi alam sadarku. Mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan lagi. Sepertinya akhir pekan lalu baru saja berlalu. Sudah datang lagi. Ibarat anak sekolah, "horeee libur lagi...". Lalu pada ahad petang mulai bergumam, "I hate monday". Hidup memang penuh perjuangan. Tapi aku ingin berjuang untuk menjalani hidup untuk selalu lebih baik dari hari ke hari. Agar tak sia-sia, begitu pesan Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat akhir pekan ya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-6381585052549584904?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/6381585052549584904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/04/pulang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/6381585052549584904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/6381585052549584904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/04/pulang.html' title='Pulang'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1362030202566358489.post-2963384395706928440</id><published>2008-04-08T13:55:00.001+07:00</published><updated>2008-09-11T19:28:54.072+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Kenangan tentang desaku</title><content type='html'>Masa kecilku ada di Air Langkap, Kaur Tengah, Bengkulu. Masa kecil itu begitu indah dalam ingatanku. Tinggal di sebuah desa nun jauh dari kota, sekitar 200 km dari Kota Bengkulu. Aku lahir di sana, tahun baru penghujung dekade '70-an. Jalan raya desaku menuju arah Lampung (saat ini sudah ada jalan tembus kesana) di sebelah selatan Sumatera. Di sebelah baratnya adalah Lautan yang berjarak sekitar 1 km dari pemukiman. Namun ada juga sebagian desa-desa tetangga yang betul-betul dekat dengan bibir pantai. Di sebelah timur desaku, ada sebuah sungai yang kami sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aya' besak&lt;/span&gt; (air besar atau sungai). Letak sungai pun hanya beberapa meter di belakang rumah penduduk. Di sana aku dan kawan-kawan, juga penduduk, saat itu mandi. Air sungai masih bersih, tak ada polusi berbahaya seperti di sungai-sungai perkotaan atau daerah dekat lokasi pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah sungai, ada kebun-kebun. Kebun-kebun itu kami sebut Talang. Saat masa kecilku, desaku adalah desa kaya. Penghasilan utama penduduk bersumber dari kebun cengkeh, sawah yang terletak antara pemukiman dan laut, serta kekayaan laut yang begitu melimpah. Aku ingat betul masa 1980-an adalah masa ketika aku bisa merasakan kejayaan penduduk desaku. Secara ekonomi, desa kami adalah desa kaya. Setiap selesai panen cengkeh, selalu ada yang berangkat menunuai ibadah haji. Selalu ada yang menabung dalam bentuk perhiasan di rumah-rumah mereka atau ibu-ibu dan gadis-gadis dusun kenakan. Halaman-halaman rumah penduduk dipenuhi dengan hamparan cengkeh yang sedang dijemur hingga kering. Hamparan jemuran di halaman itu silih berganti dari cengkeh ke padi dan ke cengkeh lagi, begitu terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin makan ikan, kami di desa tinggal memanggul pancing ke laut atau membawa jala dan jaring untuk mendapatkan ikan. Nelayan desa tetangga juga sering menjajakan ikan pada sore hari dengan mengendarai sepeda kumbang berkeliling desa pada sore hari. Kami bisa juga memperoleh ikan dengan memancing di sungai, atau beberapa rawa bekas sawah yang telah lama ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, saat pertengah tahun 80'an, jika dari kota Bengkulu menuju Kaur membutuhkan waktu seharian. Dengan menumpang bis Damri milik Departeman Perhubungan, jika berangkat sekitar pukul tujuh pagi, maka kami akan tiba di Kaur pada sekitar pukul 18 atau bahkan lebih. Perjalanan selama itu biasanya memerlukan waktu istirahat untuk makan siang atau sekedar membasuh muka atau shalat di sekitar jembatan panjang Padang Guci dan di pinggir sungai Alas (sekarang kabupaten Seluma). Saat itu, jalan raya tidaklah semulus sekarang. Belum ada aspal untuk melapisi batu-batu terjal. Selalu saja ada yang mabuk kendaraan, muntah-muntah hebat, tak terkecuali aku. Rasanya menderita sekali kalau sudah mabuk perjalanan darat ini. Pertengahan 1980-an itu aku dan saudara-saudaraku diajak oleh Bapak dan Mak pindah domisili ke pinggiran kota Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desaku yang dulu kaya, ternyata tidak selamanya menjadi kaya. Itulah makanya Bak berpikir untuk pindah domisili mendekati kota, sebab pendidikan akan lebih mudah dijangkau ketimbang di desa. Dan agaknya Bak berpikir pendidikan adalah investasi yang jauh lebih berharga dari simpanan hasil panen cengkeh dan padi di lumbung. Nyatanya benar saja. Pada awal 1990-an, Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dikuasai oleh putera Soeharto menyebabkan harga cengkeh terjun payung ke nilai paling murah. Kalau tidak salah ingat, saat itu penguasaan tunggal BPPC atas pemasaran cengkeh rakyat menyebabkan harga dengan mudah dipermainkan. Lalu, melimpahnya cengkeh telah menyebabkan daya tampung cengkeh oleh--utamanya pabrik rokok--juga sudah berlebih. Keduanya memukul telak petani di desa kami, juga petani-petani di seluruh nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawah desaku adalah desa tadah hujan. Hanya mampu bertumpu pada hujan. Sawah-sawah ini pun tak mampu menolak revolusi hijau yang dipaksakan Pemerintah yang telah terlanjur menerima bantuan pembangunan dari World Bank. Penggunaan pupuk kimia, penggunaan mesin-mesin dan juga irigasi--seingatku tidak ada irigasi di sawah-sawah kami--diterapkan. Belasan tahun kemudian aku mengetahui bahwa pupuk dan pembasmi hama dari bahan-bahan kimia itu telah merusak ekosistem alam, juga membahayakan tubuh manusia dalam waktu lama. Sekarang, tanah sawah mengalami ketergantungan pada bahan-baha kimia itu. Namun kebijakan pertanian saat ini sudah tidak berpihak pada petani, besar modal menanam padi dengan ongkos yang harus dikeluarkan jauh dari menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun demi tahun, berangsur-angsur kian menunjukkan ekonomi desa kami tak lagi sekaya dulu. Sejak pertengahan tahun 1990-an, pemuda desa kami mulai bermigrasi ke kota-kota besar terutama Jakarta. Dengan ijazah sekolah lanjutan pertama atau sedikit yang berijazah sekolah lanjutan atas, mereka hanya mampu menjadi buruh di pabrik-pabrik, penjaga toko, atau bahkan menjadi pedagang kaki lima. Pendidikan sekolah telah menjauhkan anak-anak dari pertanian, membuai tentang kehidupan yang lebih baik dengan tidak menjadi petani. Membuaikan anak-anak desa bahwa kehidupan di kota adalah lebih baik, lebih bergengsi, dan lebih menjanjikan. Generasi 1990-an adalah awal mula pertanian mulai mengalami krisis generasi penerus pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, televisi sudah memasuki ruang-ruang keluarga masyarakat desa. Mengendorkan jalinan-jalinan sosial yang bahkan dalam bentuk ngobrol sore hari sekalipun. Yang ada adalah waktu senggan di depan televisi. Acara-acar televisi itu sendiri telah pula merusakkan cara berpikir orang desa, bekerja keras dan berproses dirubah dengan pola pikir instan dan melupakan perjuangan dalam meraih impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 2000 telah banyak pemuda-pemuda dari desa kami kembali dari perantauannya di kota-kota. Setelah gagal meraih "sukses" mereka pun memutuskan untuk kembali ke desa. Aku senang mengetahuinya. Kakakku pun telah pula kembali kesana. Harapanku, semoga mereka mulai berpikir membangun desa dengan lebih baik lagi. Pengalaman di kota mungkin menyebabkan mereka terpacu untuk bekerja lebih giat di desa. Memang ada dampak negatif dari pola pikir selama tinggal di kota, tapi biarlah kita berpikir positif untuk mereka yang telah pulang ke desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap, desaku akan kembali hidup damai dan tenteram seperti masa-masa dulu. Tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk masalah yang dipicu oleh keinginan berpacu dengan percepatan-percepatan. Tidak lagi bergegas untuk sesuatu hal yang tak tahu apa yang ingin dicapai, tempat mana yang akan dituju, dan mau kemana hidup ini akan diarahkan. Ah, sebetulnya aku pun belakangan ini sedang berpikir untuk kembali ke desa. Tunggu aku ya...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1362030202566358489-2963384395706928440?l=talangdamping.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://talangdamping.blogspot.com/feeds/2963384395706928440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/04/kenangan-tentang-desaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/2963384395706928440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1362030202566358489/posts/default/2963384395706928440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://talangdamping.blogspot.com/2008/04/kenangan-tentang-desaku.html' title='Kenangan tentang desaku'/><author><name>Herman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02091094857362148389</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-u8utK3EFXEI/TVjvLVnUgHI/AAAAAAAAA8g/gqk_jfBJf20/s220/herman-small.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
