Ia terpilih lagi
{ Posted on Sunday, July 12, 2009
by Herman
}
Aku tidak memilih dalam Pemilu Presiden kali ini. Sejak mula, aku tahu ia pasti menang. Sebabnya? Iklan di mana-mana dan menggunakan hampir semua saluran komunikasi publik dari kota hingga pelosok desa. Jelas ia pasti mudah untuk diingat oleh masyarakat.
Sialnya, masyarakat di Indonesia tidak terbiasa menilai orang dari kinerjanya. Yang ada hanyalah pesona-pesona melalui media iklan.
Hal yang cukup membuatku "malas" untuk memilih kali ini adalah segala macam keberhasilan yang diklaim oleh incumbent sebagai jerih payahnya sama halnya dengan masa manipulasi. Satu cerita dari tempat tinggalku, seorang tetangga yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta bersuamikan salah seorang anggota pengawal Presiden (Paspampres) yang menyatakan bahwa ia akan memilih incumbent karena mereka makan dari pemeberiannya. Dulu, Seharto di masa kekuasaannya menyatakan (melalui partainya) bahwa sekolah Inpres, Puskesmas Inpres, Jembatan Inpres, Sapi ternak Inpres, dan semua yang berbau Inpres adalah buah dari kebaiknnya. Kenyataannya, semua program itu dilaksanakan atas biaya negara. Jelas itu bukan biaya pribadi sang incumbent. Dari fenomena ini, saya menangkap kegagalan parta politik dan pemerintah sendiri untuk mencerdaskan kehidupan politik bangsa ini.
Klaim penurunan harga BBM setelah dinaikan sekian kali, Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang ternyata bersumber pada hutang negara yang terus bertambah pada lembaga keuangan internasional, serta peningkatan anggaran pendidikan nasional yang memang menjadi amanat konstitusi telah menjadi alat untuk memenangi pertarungan kali ini. Sayangnya, sekali lagi, merupakan upaya untuk menjadikan rakyat tidak cerdas secara politik.
Capres-Cawapres lain memiliki kelemahan yang tidak kalah hebat di sana sini. Tetapi sekali lagi, rekam jejak mereka semua telah membuat saya tidak berminat untuk memilih.
Untuk beberapa hal di atas, terpaksalah saya mengurungkan niat untuk ikut memilih pasangan Capres-Cawapres Indonesia kali ini. Untuk yang menang, saya ucapkan selamat. Namun, saya tak akan merasa puas dengan membiarkan pemerintahan berjalan seadanya tanpa kritik yang membangun dan mengarahkan pada tujuan perbaikan kesejahteraan bangsa ini. Sebab, menciptakan kesejahteraan itu sendiri menjadi amanat konssitusi.
Continue reading.....
Sialnya, masyarakat di Indonesia tidak terbiasa menilai orang dari kinerjanya. Yang ada hanyalah pesona-pesona melalui media iklan.
Hal yang cukup membuatku "malas" untuk memilih kali ini adalah segala macam keberhasilan yang diklaim oleh incumbent sebagai jerih payahnya sama halnya dengan masa manipulasi. Satu cerita dari tempat tinggalku, seorang tetangga yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta bersuamikan salah seorang anggota pengawal Presiden (Paspampres) yang menyatakan bahwa ia akan memilih incumbent karena mereka makan dari pemeberiannya. Dulu, Seharto di masa kekuasaannya menyatakan (melalui partainya) bahwa sekolah Inpres, Puskesmas Inpres, Jembatan Inpres, Sapi ternak Inpres, dan semua yang berbau Inpres adalah buah dari kebaiknnya. Kenyataannya, semua program itu dilaksanakan atas biaya negara. Jelas itu bukan biaya pribadi sang incumbent. Dari fenomena ini, saya menangkap kegagalan parta politik dan pemerintah sendiri untuk mencerdaskan kehidupan politik bangsa ini.
Klaim penurunan harga BBM setelah dinaikan sekian kali, Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang ternyata bersumber pada hutang negara yang terus bertambah pada lembaga keuangan internasional, serta peningkatan anggaran pendidikan nasional yang memang menjadi amanat konstitusi telah menjadi alat untuk memenangi pertarungan kali ini. Sayangnya, sekali lagi, merupakan upaya untuk menjadikan rakyat tidak cerdas secara politik.
Capres-Cawapres lain memiliki kelemahan yang tidak kalah hebat di sana sini. Tetapi sekali lagi, rekam jejak mereka semua telah membuat saya tidak berminat untuk memilih.
Untuk beberapa hal di atas, terpaksalah saya mengurungkan niat untuk ikut memilih pasangan Capres-Cawapres Indonesia kali ini. Untuk yang menang, saya ucapkan selamat. Namun, saya tak akan merasa puas dengan membiarkan pemerintahan berjalan seadanya tanpa kritik yang membangun dan mengarahkan pada tujuan perbaikan kesejahteraan bangsa ini. Sebab, menciptakan kesejahteraan itu sendiri menjadi amanat konssitusi.
Continue reading.....



My old friends called me Sahe inspite of my parents call me Man as my nick name. You can call me Man or Sahe, or my complete name Saherman if you want to. It's just one of my blogs where I put some writings. I will be very happy to have your comment or input on its contents. Thanks for dropping by. | 

